Potongan gaji karena pelanggaran target kerja menjadi isu sensitif dalam hubungan kerja. Di satu sisi, perusahaan berhak menegakkan disiplin dan memastikan produktivitas. Di sisi lain, karyawan memiliki hak atas upah yang layak dan adil. Penentuan potongan gaji harus dilakukan secara transparan, adil, dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai aspek-aspek penting terkait potongan gaji karena pelanggaran target kerja dan bagaimana cara menentukannya dengan bijak.
Landasan Hukum dan Peraturan Terkait Potongan Gaji
Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami landasan hukum yang mengatur tentang potongan gaji. Di Indonesia, Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 dan peraturan turunannya, seperti Peraturan Pemerintah (PP) No. 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan, menjadi acuan utama. Secara umum, potongan gaji diperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu. Misalnya, adanya perjanjian kerja, peraturan perusahaan (PP), atau perjanjian kerja bersama (PKB) yang jelas mengatur tentang hal tersebut. Selain itu, potongan gaji tidak boleh melebihi jumlah yang telah ditentukan dan harus digunakan untuk kepentingan karyawan, seperti iuran BPJS atau angsuran pinjaman.
Penyebab Potongan Gaji karena Pelanggaran Target Kerja
Potongan gaji karena pelanggaran target kerja umumnya diberlakukan ketika seorang karyawan gagal memenuhi target yang telah ditetapkan perusahaan. Penyebab kegagalan ini bisa beragam, mulai dari faktor internal seperti kurangnya motivasi atau keterampilan, hingga faktor eksternal seperti masalah teknis atau kondisi pasar yang tidak mendukung. Beberapa contoh konkret yang bisa menjadi dasar pemotongan gaji antara lain:
- Tidak mencapai target penjualan: Bagi karyawan di bidang penjualan, tidak mencapai target yang telah ditetapkan dapat menjadi alasan pemotongan gaji, terutama jika target tersebut realistis dan disepakati bersama.
- Kualitas kerja buruk: Jika hasil kerja karyawan tidak memenuhi standar kualitas yang ditetapkan, misalnya menghasilkan produk cacat atau melakukan kesalahan fatal, perusahaan berhak memberikan sanksi berupa potongan gaji.
- Keterlambatan penyelesaian proyek: Keterlambatan penyelesaian proyek yang disebabkan oleh kelalaian karyawan juga bisa menjadi dasar pemotongan gaji, terutama jika keterlambatan tersebut merugikan perusahaan.
- Absensi dan keterlambatan yang berlebihan: Absensi tanpa alasan yang jelas atau keterlambatan yang sering terjadi dapat mengganggu kinerja tim dan perusahaan secara keseluruhan. Dalam hal ini, perusahaan berhak memberikan sanksi berupa potongan gaji sesuai dengan aturan yang berlaku.
Cara Menentukan Potongan Gaji yang Adil dan Transparan
Menentukan besaran potongan gaji yang adil dan transparan memerlukan pertimbangan yang matang dan objektif. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan:
- Sosialisasi target kerja dan konsekuensi: Pastikan semua karyawan memahami target kerja yang harus dicapai dan konsekuensi jika tidak mencapai target tersebut. Sosialisasi ini sebaiknya dilakukan secara tertulis dan lisan agar tidak ada kesalahpahaman.
- Evaluasi kinerja secara berkala: Lakukan evaluasi kinerja secara berkala untuk memantau perkembangan karyawan dalam mencapai target. Berikan umpan balik yang konstruktif dan bantuan jika diperlukan.
- Investigasi penyebab kegagalan: Sebelum memutuskan untuk memotong gaji, lakukan investigasi untuk mengetahui penyebab kegagalan karyawan dalam mencapai target. Apakah kegagalan tersebut disebabkan oleh faktor internal atau eksternal? Apakah karyawan telah diberikan pelatihan dan dukungan yang cukup?
- Terapkan sistem poin pelanggaran (jika ada): Jika perusahaan memiliki sistem poin pelanggaran, gunakan sistem tersebut sebagai dasar untuk menentukan besaran potongan gaji. Pastikan sistem poin pelanggaran ini adil, transparan, dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
- Konsultasikan dengan HR dan serikat pekerja (jika ada): Sebelum memutuskan untuk memotong gaji, konsultasikan dengan departemen HR dan serikat pekerja (jika ada) untuk memastikan bahwa keputusan tersebut sesuai dengan peraturan dan prinsip keadilan.
- Dokumentasikan semua proses: Dokumentasikan semua proses, mulai dari penetapan target, evaluasi kinerja, investigasi penyebab kegagalan, hingga keputusan pemotongan gaji. Dokumentasi ini penting sebagai bukti jika terjadi sengketa di kemudian hari.
Alternatif Selain Potongan Gaji
Sebelum mengambil langkah pemotongan gaji, pertimbangkan alternatif lain yang lebih konstruktif, seperti:
- Pelatihan dan pengembangan: Berikan pelatihan dan pengembangan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan karyawan agar mereka dapat mencapai target kerja.
- Mentoring dan coaching: Pasangkan karyawan yang kesulitan dengan mentor atau coach yang berpengalaman untuk memberikan bimbingan dan dukungan.
- Penyesuaian target kerja: Jika target kerja terlalu tinggi atau tidak realistis, pertimbangkan untuk menyesuaikan target tersebut agar lebih sesuai dengan kemampuan karyawan.
- Peringatan dan teguran: Berikan peringatan dan teguran sebagai bentuk pembinaan agar karyawan memperbaiki kinerjanya.
Dengan mempertimbangkan alternatif-alternatif ini, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif dan produktif. Apabila perusahaan Anda membutuhkan solusi terkait pengelolaan gaji dan tunjangan karyawan, pertimbangkan untuk menggunakan aplikasi gaji terbaik yang dapat mengotomatiskan proses perhitungan dan pembayaran gaji secara akurat dan efisien. Hal ini akan meminimalkan risiko kesalahan dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
Selain itu, jika Anda sedang mencari software house terbaik untuk mengembangkan sistem HR yang terintegrasi, pilihlah penyedia yang memiliki pengalaman dan reputasi yang baik. Sistem HR yang terintegrasi dapat membantu perusahaan mengelola data karyawan, absensi, kinerja, dan kompensasi secara lebih efektif.
Dengan menerapkan praktik yang adil, transparan, dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, perusahaan dapat meminimalkan risiko konflik dan menciptakan hubungan kerja yang harmonis.



